THANK YOU FOR VISIT MY BLOG

Friday, February 22, 2008

NHM KEMBALI DIDEMO WARGA 5 KECAMATAN

Tobelo, 21/2/08
Masyarakat adat di lima kecamatan sekitar kawasan pertambangan PT. Nusa Halmahera Minerals hari ini kembali mendatangi perusahaan patungan PT. Antam dan Newcrest Australia di desa Gosowong untuk menyuarakan tuntutan mereka. Aksi yang dilakukan untuk ketiga kalinya ini melibatkan massa yang lebih besar dari lima kecamatan.
Aksi ini akan diawali dengan upacara adat yang dipusatkan di wilayah Kao. Aksi warga ini menyusul janji pihak PT. NHM yang akan mengkaji dana Community Development yang diberikan kepada masyarakat. Warga meminta kejelasan Comdev dan transparansi dana tersebut. Bupati Halmahera Utara belum lama ini mengatakan dana Comdev PT. NHM tahun 2007 diserahkan sebesar 24 Miliar Rupiah.
Jika dibandingkan dengan produksi emas tahun 2007, prediksi hasil produksi mencapai kurang lebih 1 juta ons atau senilai kurang lebih USD 900.000.000 (harga saat ini USD 900/ons). jika dirupiahkan (dengan kurs Rp. 9.000 / USD), nilainya sekitar Rp. 8.100.000.000.000.
Berdasarkan proyeksi tersebut maka nilai 24 miliar Comdev tersebut hanyalah 0,3 %. Pantaskah??
Sebagai daerah penghasil, fakta ini sangat tidak etis. Seharusnya masyarakat sekitar menikmati paling tidak 1,5 - 2 % untuk dana Comdev, atau kurang lebih senilai Rp. 121.500.000.000 sampai Rp. 162.000.000.000.
Bisakah hal ini dipenuhi PT. NHM..?? Hal inilah yang harus diperjuangkan masyarakat, untuk dikelola sebesar-besarnya demi kemakmuran masyarakat.

Tuesday, February 19, 2008

Konvoi Kemenangan Thaib Armayn - Gani Kasuba

Tobelo, 16/2/08
Sabtu sore setelah melakukan rutinitas di kantor dan pabrik yang melelahkan, saya kembali ke kost-an ku di desa Wari Ino, dengan mengendarai sepeda motor bututku.. di desa Gura saya berpapasan dengan sekelompok orang yang melakukan konvoi kendaraan bermotor. Dengan naluri pembalap (cie ileee..) kulewati satu per satu kendaraan yang ternyata ratusan, untuk mendahului dan bisa mengambil gambar, tetapi ternyata tidak bisa.. jadi saya informasikan secara verbal aja yah..
Ternyata konvoi tersebut adalah para pendukung pasangan calon gubernur Thaib Armayn - Gani Kasuba yang "merasa" jagoannya tersebut sudah memenangkan pertarungan melawan Abdul Gafur - Rahim Fabanyo, berdasarkan hasil perhitungan suara "versi" KPUD Malut Non Aktif di Hotel Bidakara Jakarta yang memenangkan pasangan TA-GK.
Konvoi tersebut dilakukan masyarakat Galela disepanjang jalan trans Tobelo - Galela sebagai bentuk aspirasi mereka terhadap TA-GK.
Apakah ini adalah perayaan "ke-pagi-an??"..... mungkin saja...
Selama "palu" keputusan siapa gubernur Maluku Utara diketuk, maka tampuk tertinggi Pemerintahan di Maluku Utara akan tetap berada di tangan seorang TIMBUL..
Timbul, yang pelawak itu??? hahaha... sayangnya bukan.. Dia adalah Timbul Pudjianto, pejabat dilingkup DepDaGri yang menjabat sebagai Gubernur Maluku Utara.

Monday, February 18, 2008

SORRY...SORRY....

Wah...akhirnya bisa on line lagi...
Sekedar info, beberapa saat yang lalu jaringan internet di kantor kami off, ternyata emang ada kerusakan di server kantor bupati...
Terpaksa deh saya off juga hehhee...
tapi gpp koq, mulai hari ini saya akn online kembali dan berusaha untuk memberikan berita terhangat seputar Tobelo dan sekitarnya...

so Dont worry ya....

Monday, February 4, 2008

Warga Malifut Blokir Kendaraan PT. NHM

Malifut, 2/2/08
Sabtu pekan lalu terjadi aksi protes di sekitar PT. Nusa Halmahera Minerals (NHM). Sejumlah kendaraan pengangkut material tambang milik PT. NHM terpaksa tidak bisa beroperasi karena diboikot oleh warga. Aksi ini dipicu kekecewaan warga yang merasa perusahaan tersebut telah mengingkari komitmen dengan mereka. Koordinator aksi, Fahri Yamin mengaku aksi itu dilakukan karena PT. NHM tidak menepati sejumlah kesepakatan yang dilakukan, termasuk Community Development (Comdev) tahun 2007 yang sampai tahun ini belum terbayar.
Selain itu, warga menilai keberadaan Coorporate Social Responsibility (CSR) yang dibentuk PT. NHM hingga kini tidak memberikan dampak positif terhadap masyarakat sekitar areal tambang tersebut.
Fahri menegaskan aksi ini akan terus dilakukan hingga PT. NHM memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan masyarakat, termasuk revisi kontrak karya dan sistem perekrutan tenaga kerja yang adil.
Sayangnya aksi yang berlangsung sekitar 2 jam oleh sekitar 30-an orang tersebut tidak ditemui oleh pihak perusahaan.

Saturday, February 2, 2008

Hasil Jepretan

Pemandangan yang sangat indah dari Pulau Dodola

Sunset dari Pulau Dodola, di kejauhan Pulau Morotai


Suatu hari di Talaga Paca

KALI YARO MELUAP

Tobelo Selatan, Hujan yang turun terus menerus beberapa waktu yang lalu telah menyebabkan Kali Yaro meluap. Akibatnya puluhan rumah di Desa Yaro dan Leleoto tergenang air setinggi lutut orang dewasa. Hal ini doperparah dengan tersumbatnya selokan-selokan sehingga menyumbat aliran air. Kali Yaro sendiri tidak memiliki dinding pelindung di sekitar desa Yaro sehingga air dengan leluasa meluap ketika banjir bandang dari hulu.
Masyarakat harus mewaspadai fenomena ini karena bisa saja terjadi banjir yang lebih besar lagi dan mengakibatkan kerugian yang lebih banyak.

Wednesday, January 30, 2008

Kupas Tuntas "GRAND STRATEGI" Halmahera Utara

Dalam rangka mendukung program Pemerintah Daerah “Halut Go International 2010”, beberapa waktu yang lalu Bupati Hein Namotemo, MSP telah mencanangkan 5 (lima) langkah yang menjadi Grand Strategi.

Grand Strategi ini sekaligus untuk menyukseskan visi Kabupaten sebagai Kabupaten Kelapa Indonesia, serta misi untuk Mewujudkan Halmahera Utara Sejahtera dan Berbudaya.

Grand Strategi yang telah dicanangkan ini diharapkan menjadi pedoman kerja bagi seluruh masyarakat, khususnya SKPD (Dinas/Badan/Kantor) dalam menyusun program kerjanya. Selain itu bagi masyarakat sebagai kontrol bagi jalannya pemerintahan ke depan.


Kelima Grand Strategi tersebut adalah :

I. Mewujudkan Kepemerintahan yang Enterpreneur (Sasaran Bidang Pemerintahan)
  1. Seluruh SKPD menerapkan standar operasional pelayanan publik dengan kinerja yang terukur dan terintegrasi.
  2. Kantor pelayanan satu pintu (OSS) menerapkan sistem online dengan seluruh SKPD dan memberikan pelayanan investasi dalam satu paket yang konkrit.
  3. Setiap aparatur memiliki kompetensi sesuai bidangnya dan memiliki pola pengembangan karir yang jelas.
  4. Seluruh masyarakat memperoleh kepastian hukum dalam menjalankan aktifitasnya secara aman dan damai.
II. Menumbuhkembangkan Ekonomi Rakyat Berbasis Komoditas Unggulan (Sasaran Bidang Perekonomian)
  1. Halmahera Utara menjadi produsen VCO terbesar di Indonesia.
  2. Setiap kecamatan memiliki komoditas unggulan yang didukung fasilitas pembiayaan, pemasaran dan pendampingan kewirausahaan serta teknologi produksi.
  3. Setiap kecamatan memiliki pasar yang mampu menjamin ketersediaan kebutuhan pokok dan input produksi dengan harga terjangkau serta fasilitas pemasaran bagi produk unggulan daerah.
  4. Setiap desa memiliki penyuluh lapangan, pendamping kewirausahaan yang efektif memajukan potensi desanya.
  5. Halmahera Utara memiliki kampung wisatawan dengan infrastruktur pariwisata yang memadai.

III. Meningkatkan Kualitas SDM (Sasaran Bidang SDM)

  1. Seluruh anak usia sekolah menyelesaikan pendidikan minimal SLTA dan menguasai Bahasa Inggris, Komputer dan kewirausahaan.
  2. Keluarga miskin mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan sampai dengan SLTA secara Gratis.
  3. Seluruh desa menjadi Desa Siaga.
  4. Rumah sakit, puskesmas serta jaringannya memenuhi standar mutu dan dapat menjangkau/dijangkau masyarakat di wilayahnya.
  5. Seluruh keluarga sadar gizi dan menerapkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
  6. Setiap wilayah memiliki sentra pelatihan produksi sesuai komoditas unggulan wilayahnya.

IV. Mendayagunakan Teknologi Tepat Guna yang Mutakhir Dalam Pengolahan dan Pemasaran Komoditas Unggulan (Sasaran Bidang Teknologi)

  1. Setiap sentra produksi menerapkan teknologi tepat guna termaju dan ramah lingkungan dalam menghasilkan komoditas unggulan.
  2. Pengelolaan tata niaga komoditas unggulan menerapkan kemajuan teknologi terbaru baik dalam pengolahan maupun dalam pemasaran komoditas unggulan.

V. Membangun Infrastruktur yang Handal (Sasaran Bidang Infrastruktur)

  1. Seluruh pembagunan dilaksanakan berdasarkan RT/RW yang berbasis pariwisata dan agroindustri.
  2. Seluruh sentra produksi memiliki sarana dan prasarana transportasi, listrik, air bersih, dan irigasi yang handal.
  3. Setiap kawasan pemukiman memiliki air bersih, sistem sanitasi, drainase, listrik, dan bebas dari pencemaran lingkungan.

Sampai sejauh mana aplikasi dari Grand Strategi ini telah dijalankan..??

To Be Continued……

Tuesday, January 29, 2008

Jalan Berliku Anak Kemusuk

from milis unhas.yahoogroups

==================

Indonesia pada masa Orde Baru adalah antitesis kehidupan Soeharto di masa kecil.


"Saya mengalami banyak penderitaan yang tidak mungkin dialami oleh orang-orang lain," ujar Soeharto dalam otobiografinya. Kehidupan Soeharto memang suram: terlahir dari orangtua yang bercerai dan harus hidup berpindah-pindah asuhan semasa belia sampai dengan remaja.


Bahkan sekalipun diukur dari standar kehidupan keluarga di Jawa pada masa itu, ketika perceraian dianggap hal biasa, hidup Soeharto terlalu nelangsa untuk dibandingkan dengan yang lain. Kedua orangtua Soeharto, Kertosudiro dan Sukirah bercerai selang lima minggu setelah kelahirannya pada 8 Juni 1921. Ayahnya menikah lagi, begitu juga dengan Sukirah dua tahun setelah perceraiannya. Praktis untuk beberapa lamanya Soeharto tumbuh tanpa didampingi ayahnya. Sementara Sukirah yang mungkin mengalami kelelahan mental selama proses melahirkan dan perceraian yang tiba-tiba, menderita tekanan psikis yang cukup berat.


Dalam pengertian kedokteran zaman kini kemungkinan ia menderita baby blues syndrom, hal itu pula yang membuatnya meninggalkan Soeharto yang baru berusia 40 hari untuk pergi bertapa ngebleng selama beberapa hari.


Sukirah yang "hilang" itu membuat panik keluarga, tujuh hari kemudian ia ditemukan dalam keadaan lemah pada sebuah rumah di dusun Kemusuk. Keadaan fisik dan psikis demikian membuat Sukirah tak mampu merawat anaknya. Keluarga kemudian memutuskan supaya Soeharto diasuh oleh kakak perempuan Kertosudiro, istri dari Kromodiwiryo, bidan yang membantu proses persalinan Sukirah. Pada usia empat tahun Soeharto kembali diasuh oleh ibunya yang kini telah menikah lagi. Paling tidak sampai menginjak masa remaja, Soeharto selalu mengalami tarik-ulur asuhan antara keluarga ayahnya dengan ibunya sendiri.


Salah satu periode "gelap" dalam sejarah kehidupan Soeharto yaitu soal asal-usulnya sendiri. Ketidakjelasan riwayat Soeharto itu pula yang mendorong awak redaksi Majalah POP di Jakarta menurunkan laporan mengenai asal-usulnya pada 1974. Diberitakan bahwa Soeharto adalah anak dari Padmodipoero, seorang priayi keturunan Hamengkubuwono II yang membuang Soeharto yang berusia enam tahun bersama dengan ibunya kepada seorang penduduk desa Kertorejo. Padmosudiro, ayah Soeharto versi Majalah POP melakukan itu karena harus menikahi putri seorang kepala distrik berpengaruh (RE Elson: 2005, hal 29).


Membaca laporan itu Soeharto berang. Ia mengadakan konferensi pers di Bina Graha, membantah gosip yang diembuskan Majalah POP. Belasan orang tua dan kawan sepermainannya dihadirkan di sana, dan mereka serempak mengatakan bahwa Soeharto adalah anak petani dari desa Kemusuk. Majalah POP lantas dibreidel karena dianggap mengganggu stabilitas nasional dan menciptakan ketidakpercayaan pada pemimpinnya.


Kontroversi mengenai asal usul Soeharto tak berhenti di sana. Versi resmi yang mengutip langsung keterangan Soeharto pun tidak menyurutkan kebingungan mengenai siapa orang tua Soeharto yang sebenarnya. Melalui OG Roeder dalam The Smiling General Soeharto mengatakan ibu Kertosoediro (nenek Soeharto dari pihak ayah) sebagai bidan yang membantu kelahirannya, pada lain kesempatan Soeharto mengatakan tante dari pihak ayahnyalah yang menolong Sukirah saat melahirkan Soeharto. Semua pernyataan yang membingungkan itu justru datang dari Soeharto sendiri, sehingga semakin mempertebal dugaan bahwa sebetulnya Soeharto lahir dari keluarga yang lebih dari sekadar biasa-biasa saja.


RE Elson dalam biografi politik Soeharto mengatakan gambaran kabur itu menghasilkan sebuah "kesimpulan" bahwa Soeharto adalah anak dari hasil perkawinan di bawah tangan dari seorang pria berstatus sosial cukup tinggi. Ia memprediksi hal itu dengan melihat kenyataan bahwa ayah biologis Soeharto masih bisa mengawasi dia dari jauh dan tetap turut campur tangan secara tidak langsung di dalam mengasuh Soeharto. Alasan lain yang juga memerkuat dugaan bahwa Soeharto bukan orang biasa adalah standar pendidikan yang ditempuhnya terlalu baik untuk ukuran "anak petani" pada masa itu. Satu kabar mengejutkan datang dari Mashuri, mantan tetangga sekaligus sahabat dekat Soeharto, yang mengatakan bahwa ayah biologis Soeharto adalah pedagang kelontong keturunan China.

Kehidupan yang penuh penderitaan dan masa kanak-kanak Soeharto yang kurang cemerlang membawa dampak psikologis bagi diri Soeharto. Kelak turut memengaruhi berbagai keputusannya yang menyangkut soal perekonomian dan - terutama - soal anak-anaknya. Ia seperti terobsesi pada kemakmuran yang semata-mata ia persempit maknanya menjadi pemenuhan kebutuhan sandang dan pangan rakyat. Tak aneh jika semasa ia berkuasa, Soeharto menomorsatukan ekonomi ketimbang bidang lainnya. Ia juga tak mau melihat anaknya hidup menderita, sebagaimana yang ia pernah alami semasa kecil.


Berbeda dengan Soekarno atau Sjahrir yang sejak dini telah terbiasa membaca buku, Soeharto hanya akrab dengan filsafat Jawa yang ia pelajari dari Kiai Daryatmo di Wuryantoro. Filosofi hidup Soeharto tidak serumit Soekarno atau Sjahrir yang intim dengan pemikiran Karl Marx atau Ernest Renan. Cukup tiga aja: aja kagetan (jangan kaget), aja gumunan (jangan heran) dan aja dumeh (jangan mentang-mentang), Soeharto meniti jalan hidupnya.

Dengan tiga azimat sakti itu pula ia mengatur strategi ketika meletus peristiwa G.30.S 1965. Kolonel Abdul Latief mengaku telah melapor pada Soeharto perihal akan adanya gerakan dari sebagian perwira Angkatan Darat yang tak puas dengan kepemimpinan beberapa jenderal. Soeharto tidak kaget (aja kagetan), ia tetap menunggu apa yang bakal terjadi keesokan harinya.


Ternyata sejumlah perwira tinggi diculik pada dini hari 1 Oktober 1965. Melalui Hamid, juru kamera TVRI Soeharto mendapat laporan adanya suara tembakan. Beberapa jam kemudian atas perintah Umar Wirahadikusumah, Letkol. Sadjiman melaporkan kepada Soeharto tentang situasi di sekitar Monas yang dipenuhi tentara tak dikenal. Soeharto yang sudah mengetahui informasi hilangnya para jenderal segera mengumpulkan informasi dan tidak merasa heran dengan kejadian itu (aja gumunan). Ia sadar langkah apa yang harus dilakukanya. Merujuk pada kebiasaan di Angkatan Darat, mana kala Jenderal Yani berhalangan tugas, Soeharto mengambilalih posisi pimpinan Komando Angkatan Darat. Pada saat itulah ia melakoni ajaran ketiga dari Kiai Daryatmo: aja dumeh (jangan mentang-mentang).


Jalan berliku yang licin ia tempuh untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Soekarno. Dengan janji sanggup mengatasi keamanan dan keselamatan bangsa, ia meminta surat perintah dari Soekarno untuk melakukan semua itu sekaligus mengatakan pada Soekarno ia akan "mikul dhuwur mendhem jero" (memikul setinggi-tingginya jasa orang tua dan memendam sedalam-dalamnya kesalahan orang tua). Berbekal Surat Perintah Sebelas Maret 1966 itulah Soeharto meraih posisi puncak sebagai presiden. Ia tak bergeming betapa pun Soekarno mengemukakan dalam pidato 17 Agustus 1966 bahwa SP 11 Maret bukan suatu "transfer of sovereignity", bukan peralihan kekuasaan. Para sejarawan menyebut apa yang dilakukan oleh Soeharto itu sebagai kudeta ala Jawa: merangkak pelan, tapi mematikan.


Setelah berkuasa jadi presiden, agaknya Soeharto mulai melupakan ajaran guru spiritualnya. Tahun 1974, ketika terjadi huru-hara 15 Januari (Malari), ia menutup beberapa koran termasuk di antaranya Pedoman milik Rosihan Anwar. Saat ditanya oleh Menteri Penerangan Mashuri SH soal bagaimana tindakan terhadap Pedoman, Soeharto menjawab "wis pateni wae!" (sudah, bunuh/tutup saja!). Soeharto menistakan ajaran aja kagetan, karena peristiwa Malari 1974 dan pemberitaan minor tentang ia dan istrinya di Pedoman membuatnya panik dan marah.


Dresden, 7 April 1995 sekelompok pengunjuk rasa mencaci-maki dan menghalang-halangi rombongan Presiden Soeharto yang sedang berkunjung ke kota itu. Dalam perjalanan udara pulang ke Jakarta ia mengatakan kepada pers "akan menggebuk" mereka yang terlibat aksi itu. Beberapa aktivis ditangkap, termasuk di antaranya Sri Bintang Pamungkas. Soeharto tak mawas diri, ia malah heran mengapa ada orang yang begitu membenci dirinya. Lagi-lagi ia lupa soal ilmu aja gumunan yang sebelumnya ia pegang teguh.


Semakin lama ia berkuasa, semakin lupa pula ia menjalankan ajaran terakhir Kiai Daryatmo, aja dumeh. Soeharto menggunakan kekuasaannya untuk memberi izin kepada Tommy Soeharto mengimpor mobil dari Korea tanpa dibebani satu sen pun pajak. Izin itu dituangkan dalam Keputusan Presiden tentang mobil nasional (Keppres) No. 42/ 1996.


Entah karena tulah atau mungkin putaran roda sejarah, kekuasaan Soeharto akhirnya tumbang pada 21 Mei 1998 setelah didahului oleh krisis ekonomi yang menghumbalang Indonesia. Ribuan mahasiwa turun ke jalan menuntut Soeharto mundur. Dan ketika kekuasaannya berada di ujung tanduk, Soeharto teringat kembali pada filosofi Jawa yang ia dapat dari Kiai Daryatmo sekian puluh tahun lalu: lengser keprabon, mandeg pandhita.

Saturday, January 19, 2008

Little Accident at Bori

Bori, Kao Utara (18/1). Hari itu saya sedang mengantar dua orang tamu perusahaan kami dari Australia, Mr. Bryan dan Mr. Julian Hill dari PT. Champion Halmahera Mining yang sehari sebelumnya saya jemput di Ternate. Perjalanan dari Tobelo (Wisma Pelangi Agung) jam 7.30 pagi. Saat melewati desa Pediwang (dermaga) nampak macet, banyak mobil yg parkir takaruang. Setelah tanya-tanya ternyata semua mobil tidak bisa masuk desa Bori karena jalan ditutup oleh beberapa orang masyarakat.
Menurut beberapa sumber, ada warga bori yang meninggal karena ditabrak mobil kijang innova pada minggu 13/1, namun sampai malam penghiburan tidak ada tanggungjawab dari pihak sopir/bos mobil tersebut. Ini membuat mereka marah sehingga melakukan aksi ini.
Harapan untuk bisa melewati Bori ada ketika petugas kepolisian dari Tobelo tiba di lokasi. Mobil yang kami tumpangi bersama beberapa mobil lainnya "baekor" dibelakang mobil polisi (biasa... panako pe hal too..) namun sampai di ujung kampong, "para" mobil tidak berani terus ke tengah kampong, karena ada "issyu" bahwa "dorang akan lempar bomb ke arah mobil yang coba-coba lewat. Hal ini dibenak saya hanya merupakan luapan kemarahan dan tidak akan terjadi (peledakan bom-red). Seluruh mobil parkir di tepi jalan menunggu kepastian negosiasi polisi dengan pemblokir jalan, namun dari kejauhan saya melihat nampaknya ada ketegangan yang terjadi, dan kemudian "DUAAAAAARRR" bomb rakitan diledakkan, bunyinya benar-benar mengelegar (apalagi bagi saya yang belum pernah dengar suara bomb). semua kucar-kacir menyelamatkan "mobilnya" baru nyawanya...hehehe...
Saya bersama Mr. Julian dan Mr. Bryan tetap berdiri di pinggir jalan sambil tetap memikirkan cara untuk bisa melewati Bori, mengingat kedua "Bule" ini harus tiba di Bandara Ternate paling lambat jam 12 siang, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 pagi (kurang lebih 2 jam sudah kami di Bori).
Dari kejauhan nampak mobil hitam DG 1 menuju Bori. Wah, Bupati datang. Pastilah akan aman dan kami bisa lewat. Bapak Hein Namotemo (Bupati) berhenti dan bertanya kepada saya apa yang terjadi. Setelah saya memberitahu beliau menyuruh mobil kami untuk ikut di belakang mobil Bupati. Wah, kami bisa lewat nih, pikirku. Yah, kami bari putar mobil, mobil pak Bupati sudah jauh meninggalkan kami (karna banyak mobil yang parkir, susah putarnya). Kira-kira jarak 100 meter dari lokasi pemblokiran, kami lihat mobil Bupati sudah melewati pemblokiran. Yah..yah... nasib kami gimana nih...?? APESS BENER!!
Jam 10, Tidak ada jalan lain, kita harus bisa lewati pemblokiran ini. Jalan satu-satunya adalah berbicara dan meminta izin kepada mereka yang memblokir jalan. Dengan sedikit "bersilat kata" dibantu beberapa Polisi, Pak Aziz Bopeng, dan seorang Keluarga di Bori. Akhirnya kami diizinkan untuk lewat. Thanx Jesus.!!
Lega rasanya bisa lewat dan Sopirpun memacu mobil secepat kilat ke Sidangoli. Di Sidangoli, sudah ada speedboat yang menunggu karena sudah saya kontak sebelum berangkat dari Tobelo, begitu juga di Ternate, sudah ada mobil Kijang Avanza yang siap di Pelabuhan, mengantar kami ke Bandara. Tiba di bandara Jam 12.05, bersamaan dengan landingnya pesawat Wings Air yang akan ditumpangi kedua Bule ini ke Manado, selanjutnya ke Jakarta dan Australia.
Selesai deh Tugasku..!!
Sekarang saatnya kembali ke Tobelo. Tapi, bagaimana caranya kalo masih ada pemblokiran di Bori?? hah?? tidak terpikirkan sebelumnya. Tapi saya harus balik hari ini juga, bagaimanapun caranya...
to be continued...

Monday, January 7, 2008

Tentara Vs Polisi

Tobelo - Minggu (6/1/08) subuh terjadi insiden yang melibatkan Tentara dan Polisi. Terjadi kejar-kejaran yang disusul dengan aksi anarkis oknum Polisi yang membacok seorang Tentara.
Sampai hari ini suasana masih tegang. Polisi tidak ada yang berkeliaran, Lalu lintas semrawut, entah apa yang akan terjadi lagi...

Aparat keamanan koq adu jotos.. malah sampe perang... apa jadinya negeri kita kalo yg menjaga keamanan malah bikin kacau keamanan... kepada siapa lagi masyarakat harus meminta jaminan keamanan???

Tanyalah pada Rumput yang Bergoyang...